Mahasiswa Fakultas Farmasi UAD Edukasi Ibu-Ibu PKK tentang Bijak Menyikapi Informasi Kesehatan di Era Digital

Yogyakarta, 5 Mei 2026 – Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan kegiatan Promosi Kesehatan dengan tema “Jangan Asal Percaya Informasi Kesehatan di Internet: Peran Teknologi dalam Menentukan Informasi yang Benar.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 5 Mei 2026, pukul 16.00 WIB hingga selesai di Mushola Mujahidin, Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta, bekerja sama dengan PPK RT 28. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendampingan Dr. apt. Adnan, M.Sc. selaku dosen pendamping.
Kegiatan ini ditujukan kepada ibu-ibu PKK sebagai upaya meningkatkan literasi kesehatan di era digital. Pesatnya perkembangan teknologi informasi memudahkan masyarakat untuk memperoleh berbagai informasi kesehatan melalui internet dan media sosial. Namun, kemudahan tersebut juga diiringi dengan maraknya penyebaran informasi yang belum tentu benar atau bahkan termasuk hoaks kesehatan. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menyaring dan mengevaluasi informasi sebelum mempercayai maupun membagikannya kepada orang lain. “Melalui kegiatan ini, kami berharap ibu-ibu PKK dapat lebih kritis dalam menerima informasi kesehatan, mampu mengenali informasi yang valid, serta tidak mudah mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya,” ujar Dr. apt. Adnan, M.Sc. Sebelum penyampaian materi, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mengenai informasi kesehatan di era digital. Hasil pre-test ini menjadi gambaran awal pemahaman peserta terkait cara mengenali informasi kesehatan yang valid dan terpercaya.

Materi yang disampaikan dalam kegiatan ini berjudul “Bijak Menyikapi Informasi Kesehatan di Era Digital.” Dalam pemaparannya, tim PROMKES menjelaskan pentingnya bersikap kritis terhadap informasi kesehatan yang beredar di internet. Peserta diberikan pemahaman mengenai dampak hoaks kesehatan, seperti penggunaan pengobatan yang tidak tepat, kerugian finansial, menurunnya kepercayaan terhadap tenaga kesehatan, hingga potensi membahayakan kesehatan masyarakat. Selain itu, peserta juga dibekali cara memilih informasi kesehatan yang benar, antara lain dengan memeriksa sumber informasi, memastikan informasi berasal dari situs resmi, memperhatikan tanggal publikasi, serta
mewaspadai judul-judul yang bersifat sensasional dan provokatif.Tim PROMKES juga memperkenalkan konsep 3S (Saring Sebelum Sharing) sebagai langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui konsep ini, masyarakat diajak untuk menyaring informasi terlebih dahulu, menghentikan penyebaran informasi yang masih diragukan kebenarannya, dan hanya membagikan informasi yang telah terverifikasi. Selain itu, peserta juga diberikan edukasi mengenai pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan serta menggunakan teknologi secara bijak dalam mencari informasi kesehatan.
Setelah seluruh materi selesai disampaikan, peserta kembali mengikuti post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman setelah menerima edukasi. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait informasi kesehatan yang sering ditemui di media sosial maupun aplikasi pesan instan.
Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif peserta, tim PROMKES juga menyelenggarakan kuis berhadiah yang berisi pertanyaan seputar materi yang telah disampaikan. Peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar mendapatkan hadiah dari tim PROMKES. Kegiatan ini tidak hanya menambah semangat peserta dalam mengikuti penyuluhan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman terhadap materi yang telah diberikan.Melalui kegiatan PROMKES B10 ini, Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan berharap masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK, dapat menjadi lebih bijak dalam menyikapi informasi kesehatan di era digital, mampu membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan, serta turut berperan dalam mencegah penyebaran hoaks kesehatan di lingkungan sekitar.



