Promosi Kesehatan “Glow dengan Ilmu, Bukan Sekadar Tren”

Yogyakarta, 17 Juni 2026 – Tim Promosi Kesehatan Mahasiswa Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) telah melaksanakan kegiatan edukasi kesehatan bertajuk “Glow dengan Ilmu, Bukan Sekadar Tren”. Kegiatan ini diselenggarakan secara luring di Asrama Persada UAD Kampus 2A dan diikuti oleh para remaja yang memiliki ketertarikan terhadap perawatan kulit serta penggunaan produk skincare yang aman dan tepat.
Acara ini merupakan salah satu bentuk implementasi pembelajaran pada mata kuliah Pharmaceutical Care yang bertujuan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan literasi kesehatan, khususnya terkait penggunaan produk perawatan kulit yang semakin populer di kalangan remaja.
Kegiatan promosi kesehatan ini turut didampingi oleh dosen pembimbing, Dr. apt. Woro Supadmi, M.Sc., yang memberikan arahan dan dukungan selama proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mengaplikasikan ilmu kefarmasian yang telah dipelajari, tetapi juga berkontribusi dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Tim promosi kesehatan terdiri atas Savana Zahra Maharani, Izhna Komala Maharani, Revalina Faranita, Nimas Putri Dinda Ramadhani, Audy Nafa Aulia, Farhan Ragil Wicaksana, dan Ahmad Luthfi. Seluruh anggota tim berperan aktif dalam penyusunan materi, penyampaian edukasi, serta diskusi interaktif bersama peserta.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan sederhana yang meliputi pengukuran tekanan darah (TD), berat badan (BB), dan tinggi badan (TB). Untuk mengukur efektivitas edukasi yang diberikan, tim juga melaksanakan pretest sebelum penyampaian materi dan posttest setelah kegiatan berakhir. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terkait penggunaan skincare yang tepat, pentingnya sunscreen, serta cara mengecek legalitas produk melalui laman resmi BPOM. Peningkatan hasil posttest menunjukkan bahwa materi yang diberikan dapat diterima dengan baik dan memberikan manfaat bagi peserta.
Materi yang disampaikan berfokus pada pentingnya memahami kondisi kulit sebelum mengikuti berbagai tren skincare yang banyak beredar di media sosial. Pemateri menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode yang ditandai dengan perubahan hormonal yang dapat memengaruhi kondisi kulit, seperti meningkatnya produksi minyak, munculnya jerawat, bertambahnya komedo, serta meningkatnya sensitivitas kulit. Oleh karena itu, pemilihan produk perawatan kulit perlu didasarkan pada kebutuhan kulit masing-masing individu dan bukan hanya mengikuti tren yang sedang populer.
Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai berbagai jenis kulit, meliputi kulit normal, berminyak, kering, kombinasi, dan sensitif. Peserta juga diperkenalkan pada beberapa kandungan aktif yang umum digunakan dalam produk skincare. Selain itu, dijelaskan pula tahapan basic skincare yang sederhana dan sesuai untuk remaja, yaitu membersihkan wajah, menggunakan pelembap, dan mengaplikasikan sunscreen secara rutin. Salah satu materi utama dalam kegiatan ini adalah edukasi mengenai penggunaan sunscreen. Peserta diberikan pemahaman bahwa sunscreen berfungsi melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet (UV) yang dapat menyebabkan berbagai masalah kulit, mulai dari kulit kusam, flek hitam, penuaan dini, hingga meningkatkan risiko kanker kulit. Dalam pemaparannya, dijelaskan pula mengenai perbedaan sinar UVA dan UVB. Sinar UVA dapat menembus lapisan kulit yang lebih dalam dan berperan dalam proses penuaan dini, sedangkan sinar UVB lebih banyak menyebabkan kulit terbakar akibat paparan sinar matahari. Oleh karena itu, penggunaan sunscreen setiap hari menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan kulit.
Agar manfaat sunscreen dapat diperoleh secara optimal, peserta diberikan panduan dalam memilih produk sesuai jenis kulit. Sunscreen berbasis gel atau water-based dianjurkan untuk kulit berminyak, sedangkan bentuk lotion atau krim lebih sesuai untuk kulit kering. Selain itu, peserta diingatkan untuk memilih produk yang telah terdaftar secara resmi di BPOM dan memiliki informasi komposisi yang jelas. Pada saat kegiatan berlangsung, para peserta juga diberi kesehatan untuk melakukan demonstrasi pengecekan produk pada website resmi BPOM.

Tim promosi kesehatan juga mengedukasi peserta mengenai tanda-tanda ketidakcocokan penggunaan sunscreen, seperti rasa perih, kemerahan, gatal, munculnya jerawat atau bruntusan, hingga reaksi alergi. Jika gejala tersebut muncul, penggunaan produk sebaiknya dihentikan dan diganti dengan produk yang lebih sesuai dengan kondisi kulit. Selain membahas penggunaan sunscreen, materi juga mencakup cara penyimpanan produk yang benar untuk menjaga kualitas dan keamanannya. Sunscreen dianjurkan disimpan pada suhu ruang, terhindar dari paparan sinar matahari langsung, serta tidak diletakkan di tempat yang lembap.
Sebagai penutup, pemateri menjelaskan beberapa tanda kerusakan produk sunscreen, antara lain perubahan warna, perubahan tekstur menjadi terlalu cair atau menggumpal, serta munculnya bau yang tidak normal. Produk yang menunjukkan tanda-tanda tersebut sebaiknya tidak lagi digunakan karena berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan sesi tanya jawab yang memungkinkan peserta menyampaikan berbagai pertanyaan seputar masalah kulit dan penggunaan skincare sehari-hari. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya kebutuhan akan informasi kesehatan yang berbasis ilmiah di tengah maraknya tren perawatan kulit yang berkembang melalui media sosial. Melalui kegiatan promosi kesehatan ini, diharapkan para remaja bisa lebih bijak dalam memilih dan juga menggunakan skincare, dapat memahami kebutuhan kulit masing masing, serta menerapkan kebiasaan perawatan kulit yang aman.


