Lulusan Apoteker UAD Angkatan 49 Tunjukkan Kompetensi Unggul, Siap Masuki Dunia Profesi & Kerja
Kegiatan pada kali ini yaitu rapat Yudisium Profesi Apoteker dan berfokus pada evaluasi capaian pembelajaran mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker angkatan 49 serta persiapan pelaksanaan yudisium dan sumpah profesi. Rapat dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen,dan ketua senat serta tim pengelola program studi yang terlibat langsung dalam proses pendidikan dan penilaian mahasiswa. Selain itu, data yang dibahas merupakan hasil evaluasi terhadap sekitar 119 mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran profesi.
Pembahasan utama dalam rapat ini adalah evaluasi capaian pembelajaran lulusan atau CPL yang terdiri dari sepuluh aspek kompetensi. Penilaian dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu penilaian oleh dosen dan self-assessment oleh mahasiswa. Berdasarkan hasil yang dipaparkan, secara umum capaian CPL mahasiswa berada di atas standar minimal yang telah ditetapkan, yaitu 65 dari skala 100. Rata-rata nilai CPL mahasiswa berada pada kisaran 78 hingga 81, yang menunjukkan bahwa secara akademik mahasiswa telah memenuhi kriteria kelulusan dengan baik. Tidak ditemukan adanya penurunan signifikan pada aspek tertentu, sehingga dapat disimpulkan bahwa performa akademik mahasiswa relatif stabil dan merata di semua indikator.

Namun demikian, terdapat perbedaan antara hasil penilaian dosen dan self-assessment mahasiswa. Mahasiswa cenderung memberikan penilaian yang lebih tinggi terhadap dirinya sendiri dibandingkan dengan penilaian dari dosen. Hal ini menunjukkan tingkat kepercayaan diri mahasiswa yang cukup tinggi. Meskipun demikian, kondisi ini juga menjadi catatan penting bagi program studi untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa agar mampu melakukan refleksi diri secara lebih objektif.
Dari sepuluh CPL yang dievaluasi, terdapat satu aspek yang menjadi perhatian khusus, yaitu kemampuan komunikasi yang termasuk dalam CPL 8. Pada aspek ini, persentase mahasiswa yang merasa hanya cukup kompeten lebih tinggi dibandingkan dengan aspek lainnya. Hal ini juga sejalan dengan masukan dari para preseptor yang menyatakan bahwa mahasiswa sebenarnya memiliki kemampuan yang baik, namun masih kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat atau berargumentasi. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan komunikasi dan keberanian dalam menyampaikan ide menjadi salah satu rekomendasi penting untuk perbaikan ke depan.
Selain aspek akademik, evaluasi juga mencakup pengembangan diri dan soft skill mahasiswa selama mengikuti pendidikan profesi. Penilaian ini dilakukan melalui beberapa indikator, seperti penerapan nilai-nilai keislaman, peningkatan kepercayaan diri, kemampuan komunikasi interpersonal, penerapan prinsip dalam pengambilan keputusan, serta motivasi untuk menjadi apoteker. Hasil nya menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memberikan respons positif dengan memilih kategori setuju dan sangat setuju. Hanya sebagian kecil mahasiswa yang memberikan penilaian ragu-ragu atau kurang setuju. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak hanya berhasil dalam aspek kognitif, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan soft skill mahasiswa.
Dalam hal kepuasan terhadap pengelolaan program studi, mayoritas mahasiswa menyatakan puas dan sangat puas. Meskipun demikian, masih terdapat sebagian kecil mahasiswa yang merasa kurang puas, yang kemungkinan disebabkan oleh pengalaman pribadi selama proses evaluasi atau interaksi dengan pihak akademik. Hal ini menjadi bahan refleksi bagi program studi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan komunikasi dengan mahasiswa.

Pembahasan juga mencakup hasil Uji Kompetensi Nasional yang terdiri dari metode Computer-Based Test (CBT) dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Pada periode ini, seluruh mahasiswa dinyatakan lulus dengan tingkat kelulusan mencapai 100 persen melalui sistem penilaian komposit. Namun, terdapat catatan bahwa jika menggunakan sistem nilai murni tanpa komposit, terdapat beberapa mahasiswa yang nilainya berada di bawah standar batas lulus nasional. Hal ini menjadi perhatian karena ke depan terdapat kemungkinan perubahan sistem penilaian menjadi sepenuhnya berbasis nilai murni. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih intensif untuk memastikan seluruh mahasiswa mampu memenuhi standar nasional tanpa bergantung pada sistem komposit. Dari segi indeks prestasi, rata-rata IPK mahasiswa tergolong tinggi, dengan sebagian besar berada di atas 3,00 dan cukup banyak yang mencapai kisaran 3,90. Tidak terdapat mahasiswa dengan predikat tidak lulus atau kurang memuaskan, sehingga secara keseluruhan kualitas lulusan dapat dikategorikan sangat baik. Seluruh mahasiswa yang berjumlah 119 orang direncanakan dapat mengikuti yudisium pada periode ini tanpa ada yang tertunda.
Secara keseluruhan, hasil evaluasi menunjukkan bahwa program pendidikan profesi apoteker telah berjalan dengan baik dan menghasilkan lulusan yang kompeten baik secara akademik maupun non-akademik. Meskipun demikian, terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, terutama dalam kemampuan komunikasi, objektivitas dalam penilaian diri, serta kesiapan menghadapi perubahan sistem evaluasi nasional. Rapat ini juga menegaskan pentingnya peran seluruh pihak dalam mendukung kelancaran yudisium dan sumpah profesi sebagai tahap akhir dari proses pendidikan mahasiswa.



